Sabtu, 15 Oktober 2011

Tulisan Ilmiah

Introduction
ADHD (attention deficit hyperactivity disorder) adalah gangguan kejiwaan yang menyerang pada anak-anak dan bukan tidak mungkin hal tersebut akan terbawa sampai dewasa. (Brendan E. Depuea & Luka Ruzicc, 2010). Kebanyakan orang yang memiliki ADHD, ketika beranjak dewasa gangguan tersebut mulai tidak terlalu mengganggu karena orang tersebut sudah mulai belajar untuk menyesuaikan diri. Namun ada juga orang yang memiliki ADHD dan terbawa sampai dewasa.  Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) ditandai dengan merusaknya  perkembangan pada perhatian, hiperaktif, dan impulsive. (Keri Shiels ⁎, 2010). Beberapa penelitian juga mengatakan bahwa ADHD disebabkan oleh kurangnya kemampuan mengingat sesuatu (working memory), yang disebabkan oleh menurunnya lobus frontal. (Torkel Klingberg, 2002). Namun masih banyak orang awam yang tidak mengerti bagaimana untuk mengidentifikasi seseorang yang memiliki ADHD, sehingga mereka tidak menyikapinya dengan benar.

Metode
1. Participants - di mana peneliti mengambil sampel orang-orang yang memiliki ADHD dan yang tidak memilikinya untuk diberikan beberapa test kepada mereka.(Allyson G. Harrison a, 2007)
2. Diagnostic process – Peneliti (interviewer) yang mendiaknosa adalah psikiater yang telah dilatih untuk menggunakan alat-alat yang berhubungan dengan diagnose ini.(Aline G. Fischer a, Marcelo M. Victor a, & Paulo Belmonte-de-Abreu a, 2007)
3. Assessment of verbal and spatial working memory – yang meliputi kegiatan mengingat angka, berpikir tentang keruangan, matematika dan tugas kognitif yang lain.(Solveig Jonsdottira, 2005)
4. Untuk memberi pengobatan yang tepat bagi seorang penderita ADHD, sebaiknya setiap penderita di golongkan menurut tingkatan gejalanya masing-masing (Mild-Moderate-Severe Symtoms). (Bohane L., 2010)
5. Procedures – dilakukan dengan membuat janji dengan penderita ADHD dan orang tuanya untuk diber tes-tes tertentu. Sebelum melakukan tes itu, orang tua diwawancarai secara singkat melalui telepon dalam rangka untuk mendapatkan informasi demografis, sumber rujukan, sekolah dan sejarah perkembangan. Pada hari pengetesan, orang tua akan menyelesaikan kuesioner dan skala rating sementara anak mereka sedang diuji.(Wodka, et al., 2008)

Hasil
Dari Hasil Penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa :
Pada umumnya ADHD menyerang anak-anak. Ciri-ciri yang menunjukkan anak-anak yang memiliki ADHD yaitu kurangnya fokus pada satu bagian, terlalu aktif dalam melakukan suatu kegiatan, dan selalu melakukan segala sesuatu berdasarkan dorongan hati dan tidak memikirkan akibatnya (impulsive).(Se´ verine Van De Voorde *, 2010) . ADHD pada seseorang (khusunya anak-anak) sangat berkaitan dengan learning disorder. (Jafar Hoseinifara * & Mazreh Jahana, 2011). Karena cara belajar yang salah semakin meningkatkan ADHD seorang anak, misalnya anak yang memiliki ADHD tidak mampu untuk diam dan mendengarkan pelajaran di dalam kelas untuk waktu yang cukup lama.

Kesimpulan
ADHD bukan gangguan yang berbahaya bila ditangani dengan baik. Sayangnya banyak orang tua yang tidak mengetahui keadaan anaknya dengan baik, sehingga penanganannya pun salah. Setiap orang tua, guru, maupun orang lain yang memiliki anak atau saudara yang memiliki ADHD harus memperhatikan secara khusus anak tersebut, dan menjalani pengobatan secara benar. Menurut beberapa peneliti pengobatan yang dianggap cukup bagus adalah methylphenidate. (Bohane L., 2010)

Pustaka Acuan
Aline G. Fischer a, Claiton H.D. Bau a,c, Eugenio H. Grevet a, Carlos A.I. Salgado a,, Marcelo M. Victor a, K. L. S. K. a., Nyvia O. Sousa a, Christiane R. Garcia a,, & Paulo Belmonte-de-Abreu a, b. (2007). The role of comorbid major depressive disorder in the
clinical presentation of adult ADHD. Journal of Psychiatric Research, 41, 991-996.

Allyson G. Harrison a, Melanie J. Edwards a, Kevin C.H. Parker b (2007). Identifying students faking ADHD: Preliminary
findings and strategies for detection. Archives of Clinical Neuropsychology, 22, 577-588.

Bohane L., Y. M., Rowlandson.P. (2010). Medication in attention deficit hyperactivity disorder and adhd with
Autistic Spectrum Disorder (ASD). Procedia Social and Behavioral Sciences, 5, 655-659.

Brendan E. Depuea, b., ⁎, Gregory C. Burgessc, Erik G. Willcutta, L. Cinnamon Bidwella,, & Luka Ruzicc, M. T. B., c,d (2010). Symptom-correlated brain regions in young adults with combined-type ADHD:
Their organization, variability, and relation to behavioral performance. Psychiatry Research: Neuroimaging, 182, 96-102.

Jafar Hoseinifara *, S. R. Z., Ali Sheikholeslamya, Bahman Mansuri, & Mazreh Jahana, M. M. S., Behzad Shahidic, Leila Fatehi Aghdamd (2011). Examination of the relationship between ADHD and learning
disorder in Primary School Children in Tehran. Procedia Social and Behavioral Sciences, 15, 3763–3767.

Keri Shiels ⁎, L. W. H. J. (2010). Self-regulation in ADHD: The role of error processing. Clinical Psychology Review, 30, 951-961.

Se´ verine Van De Voorde *, H. R., Jan Roelf Wiersema (2010). Error monitoring in children with ADHD or reading disorder: An event-related potential study. Biological Psychology, 84, 176-185.

Solveig Jonsdottira, Anke Boumab, Joseph A. Sergeantc, Erik J. A. Scherderc (2005). The impact of specific language impairment on working memory in children with ADHD combined subtype. Archives of Clinical Neuropsychology, 20, 443-456.

Torkel Klingberg, H. F., and Helena Westerberg (2002). Training of Working Memory in Children
With ADHD. Journal of Clinical and Experimental Neuropsychology, 24(6), 781-791.

Wodka, E. L., Loftis, C., Mostofsky, S. H., Prahme, C., Larson, J. C. G., Denckla, M. B., et al. (2008). Prediction of ADHD in boys and girls using the D-KEFS. Archives of Clinical Neuropsychology, 23(3), 283-293.


Link Jurnal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar