Minggu, 23 Oktober 2011

About Me ^^

     Hi! My name is Fifi Limantoro.. I was born on June 10th 1993 in Surabaya, so this year I am 18 years old..  This year is my first year to start a new world in college and I take Psychology Faculty in Universitas Surabaya.. 
      My Sister is one year younger than me.. Her name is Christine Limantoro.. Now she is in the third grade on Petra 2 Senior High School.. The difference age between us doesn't make us fight each other, on the other hand we always together.. I loved to read novel, listen to the music, watching TV, and many others..

       Haii, namaku Fifi Limantoro.. Aku lahir di Surabaya 10 Juni 1993, jadi tahun ini aku berusia 18 tahun.. Tahun 2011 ini adalah tahun pertama ku memasuki dunia perkuliahan.. Aku mengambil jurusan Psikologi di Ubaya.. 
       Adikku 1 tahun lebih muda dari aku, namanya Christine Limantoro.. Saat ini dia sedang duduk di kelas XII SMA Kristen Petra 2.. Perbedaan umur di antara kami tidak membuat kami sering bertengkar, sebaliknya kami selalu kompak.. Aku suka membaca novel, mendengarkan lagu, nonton DVD, dan masi banyak lagi deh.. hehe

Test Psikologi ^^


Baru-baru ini aku mencoba sebuah tes Psikologi gratis di internet. Lumayan seruu juga ternyata =D..banyak si macam-macam tes Psikologi di internet, misalnya tes kepribadian, tes temperamen, tes kemampuan otak kita, dan lain-lain..Aku mencoba tes kepribadian.. daan ini hasilnya..^^

Tipe Idealis Penyelaras dikenali dari kepribadiannya yang kompleks dan memiliki begitu banyak pemikiran dan perasaan. Mereka orang-orang yang pada dasarnya bersifat hangat dan penuh pengertian. Tipe Idealis Penyelaras berharap banyak pada diri mereka sendiri dan orang lain. Mereka memiliki pemahaman yang kuat tentang sifat-sifat manusia dan seringnya menilai karakter dengan sangat baik. Namun mereka lebih sering menyimpan perasaan dan hanya mencurahkan pemikiran serta perasaan mereka kepada sedikit orang yang mereka percaya. Mereka sangat terluka jika ditolak atau dikritik. Tipe Idealis Penyelaras menganggap konflik sebagai situasi yang tidak menyenangkan dan lebih menyukai hubungan harmonis. Namun demikian, jika pencapaian sebuah target tertentu sangat penting bagi mereka, mereka dapat dengan berani mengerahkan seluruh tekad mereka hingga cenderung keras kepala.

Tipe Idealis Penyelaras memiliki fantasi yang hidup, intuisi yang nyaris seperti mampu membaca masa depan, dan seringkali sangat kreatif. Begitu berkutat dengan sebuah proyek, mereka melakukan segala daya upaya untuk mencapai tujuan-tujuan mereka. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka sering membuktikan diri sebagai pemecah masalah ulung. Mereka suka mendalami hingga ke akar permasalahan dan memiliki sifat ingin tahu alamiah serta haus akan pengetahuan. Pada saat bersamaan, mereka berorientasi praktis, terorganisir dengan baik, dan siap menangani situasi-situasi rumit dengan cara terstruktur dan pertimbangan matang. Ketika mereka berkonsentrasi pada sesuatu, mereka melakukannya dengan seratus persen – mereka sering begitu terbenam dalam sebuah pekerjaan sehingga melupakan hal lain di sekitar mereka. Itulah rahasia kesuksesan profesional mereka yang seringkali gilang gemilang.

Sebagai pasangan, tipe Idealis Penyelaras setia dan dapat diandalkan; hubungan permanen sangat penting bagi mereka. Mereka jarang jatuh cinta hingga mabuk kepayang dan juga tidak menyukai hubungan-hubungan asmara singkat. Kadang-kadang mereka sulit menunjukkan rasa sayang mereka dengan jelas sekalipun perasaan mereka dalam dan tulus. Dalam hal lingkaran pertemanan, semboyan mereka adalah: sedikit berarti lebih banyak! Sejauh menyangkut kenalan baru, mereka hanya dapat didekati hingga jarak tertentu; mereka lebih suka mencurahkan tenaga ke dalam pertemanan akrab yang jumlahnya sedikit. Tuntutan mereka kepada teman dan pasangan mereka sangat tinggi. Karena mereka tidak menyukai konflik, mereka akan diam sejenak sebelum menyuarakan masalah-masalah yang tidak memuaskan dan, ketika melakukannya, mereka berusaha sangat keras untuk tidak menyakiti siapa pun karenanya.

Yah meskipun ga smuanya sesuai, tapi lumayan cocok juga kok..^^
penasaran kaan?? Selamat mencoba deeh

Senin, 17 Oktober 2011

ADHD

http://sekolahautismeal-ihsan.com/wp-content/uploads/2010/04/mengatasi_anak_hiperaktif.jpg

ADHD (attention deficit hyperactivity disorder) gangguan saraf yang umumnya dialami anak-anak dan tidak jarang juga yang terbawa sampai dewasa. Tanda-tanda anak yang mengalami ADHD yaitu kurangnya perhatian akan sesuatau, tidak bisa berkonsentrasi dalam jangka waktu yang lama, dan terlalu aktif dalam melakukan kegiatan. Namun bukan berarti anak ADHD tidak bisa berlaku normal. Jika orang tua menangani dengan benar pasti anak ADHD juga bisa tumbuh seperti anak-anak normal lainnya. Bahkan tidak sedikit anak dengan ADHD yang sukses masa depannya, contohnya Albert Einstein, dulu banyak orang yang mengatakan bahwa dia anak idiot dan tidak mungkin berhasil. Nyatanya, sekarang banyak sekali temuan-temuan Einstein yang kita gunakan untuk kehidupan sehari-hari.

Ingin coba mengukur ADHD mu?klik saja link  di bawah ini =D
https://docs.google.com/spreadsheet/viewform?hl=en_US&formkey=dGJtdUp5eHA4UFl5ZndLUGVIZlBqb3c6MQ#gid=0 

Sabtu, 15 Oktober 2011

Tulisan Ilmiah

Introduction
ADHD (attention deficit hyperactivity disorder) adalah gangguan kejiwaan yang menyerang pada anak-anak dan bukan tidak mungkin hal tersebut akan terbawa sampai dewasa. (Brendan E. Depuea & Luka Ruzicc, 2010). Kebanyakan orang yang memiliki ADHD, ketika beranjak dewasa gangguan tersebut mulai tidak terlalu mengganggu karena orang tersebut sudah mulai belajar untuk menyesuaikan diri. Namun ada juga orang yang memiliki ADHD dan terbawa sampai dewasa.  Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) ditandai dengan merusaknya  perkembangan pada perhatian, hiperaktif, dan impulsive. (Keri Shiels ⁎, 2010). Beberapa penelitian juga mengatakan bahwa ADHD disebabkan oleh kurangnya kemampuan mengingat sesuatu (working memory), yang disebabkan oleh menurunnya lobus frontal. (Torkel Klingberg, 2002). Namun masih banyak orang awam yang tidak mengerti bagaimana untuk mengidentifikasi seseorang yang memiliki ADHD, sehingga mereka tidak menyikapinya dengan benar.

Metode
1. Participants - di mana peneliti mengambil sampel orang-orang yang memiliki ADHD dan yang tidak memilikinya untuk diberikan beberapa test kepada mereka.(Allyson G. Harrison a, 2007)
2. Diagnostic process – Peneliti (interviewer) yang mendiaknosa adalah psikiater yang telah dilatih untuk menggunakan alat-alat yang berhubungan dengan diagnose ini.(Aline G. Fischer a, Marcelo M. Victor a, & Paulo Belmonte-de-Abreu a, 2007)
3. Assessment of verbal and spatial working memory – yang meliputi kegiatan mengingat angka, berpikir tentang keruangan, matematika dan tugas kognitif yang lain.(Solveig Jonsdottira, 2005)
4. Untuk memberi pengobatan yang tepat bagi seorang penderita ADHD, sebaiknya setiap penderita di golongkan menurut tingkatan gejalanya masing-masing (Mild-Moderate-Severe Symtoms). (Bohane L., 2010)
5. Procedures – dilakukan dengan membuat janji dengan penderita ADHD dan orang tuanya untuk diber tes-tes tertentu. Sebelum melakukan tes itu, orang tua diwawancarai secara singkat melalui telepon dalam rangka untuk mendapatkan informasi demografis, sumber rujukan, sekolah dan sejarah perkembangan. Pada hari pengetesan, orang tua akan menyelesaikan kuesioner dan skala rating sementara anak mereka sedang diuji.(Wodka, et al., 2008)

Hasil
Dari Hasil Penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa :
Pada umumnya ADHD menyerang anak-anak. Ciri-ciri yang menunjukkan anak-anak yang memiliki ADHD yaitu kurangnya fokus pada satu bagian, terlalu aktif dalam melakukan suatu kegiatan, dan selalu melakukan segala sesuatu berdasarkan dorongan hati dan tidak memikirkan akibatnya (impulsive).(Se´ verine Van De Voorde *, 2010) . ADHD pada seseorang (khusunya anak-anak) sangat berkaitan dengan learning disorder. (Jafar Hoseinifara * & Mazreh Jahana, 2011). Karena cara belajar yang salah semakin meningkatkan ADHD seorang anak, misalnya anak yang memiliki ADHD tidak mampu untuk diam dan mendengarkan pelajaran di dalam kelas untuk waktu yang cukup lama.

Kesimpulan
ADHD bukan gangguan yang berbahaya bila ditangani dengan baik. Sayangnya banyak orang tua yang tidak mengetahui keadaan anaknya dengan baik, sehingga penanganannya pun salah. Setiap orang tua, guru, maupun orang lain yang memiliki anak atau saudara yang memiliki ADHD harus memperhatikan secara khusus anak tersebut, dan menjalani pengobatan secara benar. Menurut beberapa peneliti pengobatan yang dianggap cukup bagus adalah methylphenidate. (Bohane L., 2010)

Pustaka Acuan
Aline G. Fischer a, Claiton H.D. Bau a,c, Eugenio H. Grevet a, Carlos A.I. Salgado a,, Marcelo M. Victor a, K. L. S. K. a., Nyvia O. Sousa a, Christiane R. Garcia a,, & Paulo Belmonte-de-Abreu a, b. (2007). The role of comorbid major depressive disorder in the
clinical presentation of adult ADHD. Journal of Psychiatric Research, 41, 991-996.

Allyson G. Harrison a, Melanie J. Edwards a, Kevin C.H. Parker b (2007). Identifying students faking ADHD: Preliminary
findings and strategies for detection. Archives of Clinical Neuropsychology, 22, 577-588.

Bohane L., Y. M., Rowlandson.P. (2010). Medication in attention deficit hyperactivity disorder and adhd with
Autistic Spectrum Disorder (ASD). Procedia Social and Behavioral Sciences, 5, 655-659.

Brendan E. Depuea, b., ⁎, Gregory C. Burgessc, Erik G. Willcutta, L. Cinnamon Bidwella,, & Luka Ruzicc, M. T. B., c,d (2010). Symptom-correlated brain regions in young adults with combined-type ADHD:
Their organization, variability, and relation to behavioral performance. Psychiatry Research: Neuroimaging, 182, 96-102.

Jafar Hoseinifara *, S. R. Z., Ali Sheikholeslamya, Bahman Mansuri, & Mazreh Jahana, M. M. S., Behzad Shahidic, Leila Fatehi Aghdamd (2011). Examination of the relationship between ADHD and learning
disorder in Primary School Children in Tehran. Procedia Social and Behavioral Sciences, 15, 3763–3767.

Keri Shiels ⁎, L. W. H. J. (2010). Self-regulation in ADHD: The role of error processing. Clinical Psychology Review, 30, 951-961.

Se´ verine Van De Voorde *, H. R., Jan Roelf Wiersema (2010). Error monitoring in children with ADHD or reading disorder: An event-related potential study. Biological Psychology, 84, 176-185.

Solveig Jonsdottira, Anke Boumab, Joseph A. Sergeantc, Erik J. A. Scherderc (2005). The impact of specific language impairment on working memory in children with ADHD combined subtype. Archives of Clinical Neuropsychology, 20, 443-456.

Torkel Klingberg, H. F., and Helena Westerberg (2002). Training of Working Memory in Children
With ADHD. Journal of Clinical and Experimental Neuropsychology, 24(6), 781-791.

Wodka, E. L., Loftis, C., Mostofsky, S. H., Prahme, C., Larson, J. C. G., Denckla, M. B., et al. (2008). Prediction of ADHD in boys and girls using the D-KEFS. Archives of Clinical Neuropsychology, 23(3), 283-293.


Link Jurnal